Dalam studi, peneliti mengamati sejumlah anak yang
memiliki ruam. Salah satunya seorang anak perempuan dengan ruam di wajah
dan bokong. Dia melakukan pengobatan selama delapan tahun dengan
antibiotik, tetapi ruam muncul kembali.
Setelah diteliti lebih lanjut, diketahui bahwa ibunya
selalu membersihkan mulut dan bokong anaknya dengan tisu basah. Setelah
pemakaian tisu basah dihentikan, reaksi alergi langsung hilang.
Dalam lima kasus ruam bayi lainnya yang diteliti
University of Connecticut School of Medicine, hasil tes menunjukkan
bayi-bayi mengalami alergi MI.
Dr Chang mengatakan," Tisu bayi memang sangat praktis.
Saya punya tiga anak dan tahu betapa sulit mengubah kebiasaan terutama
saat bepergian."
Oleh karena itu, Dr Chang menyarankan agar orangtua
mengurangi penggunaan tisu basah hanya saat bepergian. "Saat di rumah,
lebih baik menggunakan kain lembut dan air untuk meminimalkan paparan,"
katanya.
Selanjutnya, Dr Robin Gehris dari University of Pittsburgh
Medical Centre, mengatakan jumlah anak yang menderita reaksi alergi
akibat tisu bayi juga meningkat. Dia percaya, hal tersebut disebabkan
tingkat kimia MI di tisu bayi dinaikkan. Di awal penggunaan pada 2005,
kadar MI hanya 1-2 persen, namun kini mencapai lebih dari 10 persen.
Tisu bayi bukan satu-satunya produk yang mengandung MI.
Perusahaan kosmetika juga lumrah menggunakannya dalam berbagai produk
kosmetik. MI adalah pengawet yang dirancang untuk memperpanjang umur
simpan, dan tidak memiliki kegunaan lain bagi produk.

No comments:
Post a Comment